Fridayana Baabullah

Sabtu, Juli 31, 2010

Lika-Liku Depok-Tebet

Selalu saja ada kejadian menarik dalam perjalanan Depok-Tebet. Kadang bikin ketawa ngakak-ngakak, kadang bikin rusuh :D, kadang bikin hati deg-degan, kadang bikin senyam-senyum sendiri, kadang juga bikin bingung. Mungkin ini salah satu ceritanya yang ingin saya share pada readers.

Perjalanan Depok-Tebet biasa saya kerjakan menggunakan jasa KRL Jabodetabek. Tiket murah (kadang free ticket) :D dan bebas macet. Sebenarnya ini ada dua cerita berbeda namun saling berkaitan :D.

Malam itu dari depan Ambasador saya naik mikrolet 44 menuju Stasion Tebet. Jam menunjukan sekitar pukul 21:18. Sepengetahuan saya, krl tujuan depok yang tersedia hanya yang jam 22.00 dan 23.00. Harapan saya adalah naik yang pukul 22.00. Karena jarak tempuh Ambasador ke Tebet mungkin hanya sekira 20-30 menitan.

Jalanan ternyata lebih macet dari biasanya, saya semakin cemas. Rasanya gag rela jika harus ketinggalan kereta yang jam 22.00. Sepanjang jalan saya harap-harap cemas agar bisa naik krl jam 22.00. Soalnya kalo naek yang jam 23.00, bisa-bisa sampe depok jam 23.35 dan tentu saja waktu istirahat kepotong banyak.

Singkat cerita, akhirnya mikrolet itu tiba di seberang Stasion Tebet. Saya senang sekali, jam menunjukan hampir jam 22.00. Namun, ketika saya turun dan selesai membayar ongkos, saya melihat dari kejauhan di dalam stasion sudah tersedia rangkaian kereta yang mulai pergi perlahan meninggalkan Tebet menuju Bogor.. T_T Mau-tak-mau saya mesti menunggu keberangkatan kereta berikutnya yang jam 23.00. Mati gaya di stasion deh.. Mau baca buku juga udah suntuk, mau tiduran juga gag terlalu berani..

Nah, di hari berikutnya juga terjadi hal yang cukup mirip namun lebih konyol :D. Sehabis makan-bareng di plangi sekira jam 21.20 saya naik bis 46 menuju stasion Cawang. Jarak antara stasion Cawang tidaklah terlalu jauh sehingga jadwal kereta pun mungkin hanya berbeda satu-dua menitan. Target saya adalah naik krl yang jam 22.00.

Bis 46 itu melaju di jalan gatsu. Jalan gatsu yang cukup lebar cukup membuat perjalanan menjadi lebih lancar daripada trip dari ambasador ke tebet. Jadi perkiraan perjalanan semanggi-cawang adalah 20 menit saja. Alhamdulillah bis masih kosong, hingga saya masih bisa dapat tempat duduk.

Tapi usaha pencapaian target tampaknya menemui rintangan. Bis itu masuk ke pom bensin gatsu :D. Saya tau persis, bis 46 kalo isi bensin biasanya menghabiskan waktu 10-15 menit :D. Argghghghg, kacau balau.. Gag rela kalo harus ketinggalan kereta lagi dan lagi. Saya cuman bisa duduk pasrah, sambil ngeliatin counter pengisian bensin yang terasa tak selesai-selesai. Jam di handphone pun bolak-balik saya pantau terus :D.

Selesai pengisian bensin jam 21.46. Hiks, apakah saya bisa mencapai target tiba di cawang jam 22.00 ????

Hemm, pasrah.. pasrah.. pasrah..

Kegundahan di dalam bis saya singkat saja, saya tiba di cawang tepat jam 22.00. Dari jembatan cawang saya belum melihat keretanya. Jadi kemungkinan masih berada di stasiun tebet menuju cawang. Saya buru-buru menuju loket membeli tiket lalu segera masuk ke peron bogor. Namun situasinya benar-benar aneh. Peron bogor itu sangat-sangat sepi. Nyaris tidak ada penumpang yang menunggu. Ini tidak biasa...

Saya duduk menunggu lalu melihat jam yang sudah menunjukan pukul 22.03. Aneh sekali, biasanya kereta tiba jam 22.00 tepat. Mungkinkah sebelum saya tiba di cawang, keretanya sudah berangkat duluan??? Ah tak mungkin, petugas loketnya bilang sebentar lagi keretanya datang kok.

Menit-demi-menit terus berlalu tapi tak ada tanda-tanda akan ada kereta lewat. Hemm, aneh sekali.. Saya mulai cemas lagi :D. Beberapa saat kemudian petugas mengumumkan bahwa krl ac ekonomi jurusan bogor baru lewat stasion juanda.. Dammmm.... T_T Apa apaan nehhh... Itu kan masih sangat-sangat jauh dari stasion cawang...

Yah, pasrah deh mo jam berapa datengnya... asal jangan yang jam 23.00.

Lalu kereta pun tiba, saya masuk dan alhamdulillah rangkaian masih banyak kursi yang kosong. Saya pun bisa dapat tempat duduk, lalu melihat jam tangan penumpang lain yang menujukan pukul 22.30.. T_T

Ahh, saya manfaatkan saja untuk tidur di kereta, melepas lelah... Rasanya nyaman sekali kereta ac itu.. Adem...

Entah berapa lama saya tertidur tiba-tiba saya terjaga,, Oh masih di stasion UI. Masih lumayan jauh, saya pun tiduran lagi...

Lalu saya terjaga lagi, namun kali ini saya tidak dapat memastikan sudah sampai stasion mana karena tempat-tempat yang dilewati kereta itu tidak begitu saya kenal. Saya mulai cemas lagi jangan-jangan kebablasan neh :D. Setelah saya tanya ibu-ibu di sebelah ternyata stasion depok lama telah jauh terlewati. Aduuuuu... kacau...

Akhirnya saya turun di stasion citayam, lalu ngangkot ke depok.. tiba di kontrakan jam 23.15... Konyol :D!!!!

Label: ,

Dont Use It, Out of Service

Cerita ini konyol, saking konyolnya saya gag berani ditulis lengkap di blog. Ya cuman benang merahnya aja yang ditulis disini, biar ntar saya bisa kembali mengingat kekonyolanku saat itu :D. Benang merahnya adalah : Grha XL, 'Dont Use It, Out of Service', pulang ngantor, Ground Floor.

Label: , ,

Minggu, Juli 25, 2010

Tentang Film Amerika

Hueemm,, barusan nonton film Green Zone. Film amerika bertema perang. Settingnya di Iraq. Cerita utamanya adalah tentang kepenasaran Chief Miller atas tugasnya di Iraq untuk membongkar WMD. WMD itu senjata pemusnah masal. Kenapa dia penasaran, karena setiap kali ditugaskan ke suatu site yang dicurigai terdapat WMD, pasti saja tidak ditemukan apa-apa. Di berpikir mungkin intelnya melakukan kesalahan. Tapi kenapa kok meleset terus. Nah dari situlah dia mulai mencari-cari fakta tentang WMD. Apakah benar WMD itu ada.

Filmnya sih biasa aja... Gag ada spesial effect yang menakjubkan. Cuman yang ingin saya share adalah tentang karakteristik film-film amerika jaman sekarang.

Saya bukanlah maniak film, tapi dari beberapa film amerika yang pernah saya tonton ada beberapa benang merah yang saya tangkap. Berikut adalah benang merah yang saya pahami:

  1. Cinta Amerika. Seberapa bobrok nya pemerintahan Amerika. Pasti saja mereka bangga. Mereka telah menghancurkan sebuah negara lain, namun mereka bangga dan merasa jadi pahlawan.
  2. Budaya. Dalam film-film sering saya lihat kecintaan mereka menonton NBA, baseball, fashion, dance, musik-musik khas amerika. Di film Green Zone tadi, ada sebuah palace bernama Green Zone. Bangunan tersebut saya pikir sebuah lembaga pemerintahan Irak. Kalo di Indonesia, mirip gedung-gedung miliknya Bank Indonesia lah, besar-besar dan kokoh. Ternyata di dalamnya adalah sebuah resort bagi orang amerika dan militernya. Ada kolam renang, dipasang musik-musik, minuman, bir, fitness toolkit, mini bar, dsb. Namanya kolam renang.. apalagi yang ada di dalam nya orang amerika, ya dapat dibayangkan lah busana yang mereka pakai. Rada aneh memang, di sebuah situasi negara yang sedang konflik ada sebuah kawasan santai seperti ini. Nah di film Body of Lies juga ada kawasan seperti ini, di Timur Tengah juga.
  3. Amerika selalu benar. Konyol sekali, misi-misi yang salah, salah sasaran... apapun itu kesalahannya.. Amerika selalu benar.. dan kesalahan yang telah diperbuatnya seakan terlupakan begitu saja. Bayangkan, di sebuah negara lain yang banyak sekali militer amerika disana, menurutku sih gag ada bedanya sama penjajahan. Seenaknya aja mereka bercokol, apa sih hak mereka?? Mereka bisa cuci tangan dengan sangat bersih. Nah di Green Zone sepertinya Amerika ingin bercerita bahwa penyerbuan mereka ke Irak beberapa tahun lalu kan mencurigai adanya WMD, tapi kan kenyataannya tidak terbukti. Green Zone ini secara implisit ingin memberikan jawaban kenapa mereka tidak menemukan WMD. Menurut saya sih begitu,,
  4. Militer. Dalam setiap penyerbuannya, mereka pasti mengerahkan semua resource darat laut udara, bahkan untuk mengejar satu orang saja ck ck ck. Wah sibuk banget deh..
  5. Teknologi. Di film-filmnya mereka mengunggulkan teknologi. Dari mulai teknologi informasi, telekomunikasi, perang, map super canggih, satelit pengintai dengan akurasi yang sangat tinggi, dll. Walaupun mungkin itu baru hayalan mereka saja. Tapi seperti pepatah bilang, hayalan bisa jadi kenyataan loh.
  6. Produk kebanggaan. Salah satu dari produk ini hampir dipastikan ada di film-film amerika adalah: CIA, FBI, Langley, Washington DC, 4 juli, CNN, White House, Burger, dll. Di film Ocean Thirteen ada bagian ketika para bandit-bandit cerdik itu menangis terharu melihat tayangan Oprah Winfrey. Di Green Zone, petugas sipir penjara terlihat asyik menonton pertandingan NBA diiringi musik country khas amerika. Oya selain produk real, saya juga sering banget mendengar kata-kata berikut: classified, top-secret, classified access, level-level dokumen, dll. Mereka ternyata memiliki banyak sekali rahasia ya, bahkan petinggi-petinggi pemerintahannya pun mungkin tidak mengetahui semua rahasia yang ada, kecuali presidennya :D
  7. Pesan. Saya pikir di setiap film-filmnya ada suatu pesan yang ingin disampaikan bahwa amerika tuh begini loh, ayo ikutin yuks budaya kami..
  8. Sex Bebas, Fashion dan Alkohol. Terutama dalam film remaja dan romantis, selalu saja ada adegan ciuman, kencan, bermalam bersama, minum di bar, mabok, wine, memakai pakaian, celana dan baju yang serba minim sexy aurat kemana-mana. Tema ini memang bukan inti utama dari film tersebut, namun justru ini yang berbahaya. Kenapa berbahaya? Karena hal tersebut dianggap lumrah terjadi. Beberapa hari yang lalu saya sempat ke gramedia. Disitu ada setumpuk buku tentang all-about Twilight Eclipse. Yups, film vampire remaja yang begitu laris di seluruh dunia. Isi bukunya juga begitu lah romantika remaja amerika. Banyak adegan ciumannya. Memang cerita dari film-film tersebut ada yang sangat bermanfaat seperti persahabatan, pengorbanan, heroisme. Dan ini kadang jadi alasan utama buat nonton, dengan mengesampingkan efek dari melihat budaya yang sepatutnya tidak kita contoh.

Gag ada yang bisa ngelarang mereka membuat film seperti itu, cuman kitanya aja yang mau atau engga nonton tuh film. Ingat loh, manusia akan sangat cepat belajar hal baru hanya dengan melihat dan mendengar saja. Canggih kan...

Anyway, di film Green Zone ada satu hal yang buat saya sih cukup menarik. Jadi si wartawati amerika itu ternyata menggunakan notebook yang sama dengan notebook kantor yang saya pakai, heuheuheueu... Coba deh tebak notebook apa itu... :D

Label: ,

Sabtu, Juli 24, 2010

Belahan Jiwa

Sejak pertama kali diciptakan, benda itu telah terbelah. Belahan itu menempati ruang dan waktu yang sama sekali tidak diketahui satu sama lain. Bahkan belahan yang satu tidak mengetahui wujud belahan lainnya. Mereka terus hidup pada jalan masing-masing. Mengukir diri menuju kesempurnaan. Namun masing-masing dari mereka tak pernah bisa merasa selalu sempurna.

Waktu berjalan lambat-laun mulai mendekatkan mereka pada pertemuan yang tidak akan pernah mereka duga. Setiap belahan mulai merasakan kehadiran belahan lain yang semakin dekat. Mereka mulai resah. Mereka yakin ada belahan lain yang akan menyempurnakan dirinya. Namun dia tidak mengetahui dimanakah belahan itu berada dan seperti apa. Banyak belahan lain yang lalu lalang dihadapan mereka. Tapi mereka merasakan bahwa yang mereka temui bukanlah bagian dari diri mereka. Keresahan untuk menuju kesempurnaan diri makin menggebu, namun mereka hanya bisa pasrah jika waktu memang belum mempertemukan dengan belahannya.

Mereka yakin, akan bertemu belahannya di saat yang benar-benar sempurna. Belahan yang benar-benar saling melengkapi satu-sama-lain. Tidak mencela kekurangan belahan lainnya, namun menyempurnakannya dengan kesempurnaan yang dimilikinya.

Dan ketika waktu telah mempertemukannya.. maka sempurnalah mereka...

Label: , ,

Selasa, Juli 20, 2010

Perempuan Berlesung Pipit

"Pertemuan dengan jodoh terindah, selalu dimulai dengan niat yang sungguh-sungguh. Bahkan, meskipun kita belum memiliki calon istri. Kalau kita berniat menikah, insaya Allah jalan jodoh akan dibukakan dengan sangat mudah. Segalanya tergantung dari niat kita masing-masing."
PACAR KESAYANGAN

Nama saya Indra. Ketika itu saya masih belia 25 tahun. Saya punya pacar yang saya cintai. Pacar saya, seorang perempuan istimewa. Dia berasal dari keturunan ningrat kraton, darah biru. Sangat cantik. Bekerja di perusahaan bonafid di Jakarta. Namanya Hani. Karena dia cantik, maka sangat potensial untuk 'diambil orang'. Wajarlah kalau saya sangat protektif kepadanya. Mungkin lebih gila lagi hingga sampai taraf posesif.

Untungnya, selama pacaran Hani termasuk cewek setia. Tidak neko-neko. Lebih-lebih dengan keadaan status sosial kami yang jauh berbeda. Secara finansial, saat itu saya sudah mapan. Walaupun pekerjaan saya sebagai makelar mobil bekas, saya sudah punya rumah, mobil, dan beberapa aset kekayaan. Status sebagai orang kebanyakan saja yang membuat saya minder terhadap pacar.

Saya bukan bangsawan. Bukan priyayi atau memiliki trah keraton. Selain itu, saya juga tidak sekolah tinggi. Saya hanya lulusan D-3. Sudah malas meneruskan kuliah lagi. Otak saya tidak terlalu nyantol untuk urusan pelajaran dan teori. Semua itu sering membuat saya frustasi berkepanjangan.

Lebih-lebih kalau saya tahu Hani pergi ke luar kota dengan kawan lelakinya. Meskipun untuk urusan kantor, tetap membuat saya khawatir. Resah, gelisah, sampai membuat saya stres. Cinta yang berlebihan dan tidak sehat. Pacaran empat tahun masih saja bikin saya cemas.

Sudah beberapa kali saya mengajak Hani menikah. Selalu saja ditolak. Alasannya, Hani ingin mengejar karier dan merampungkan studi S-2nya. Saya harus terima, meskipun dengan sedikit tidak sabar. Penjelasan saya menikah tak akan menghalangi karier dan studinya, ternyata ditolak Hani.

Rasa posesif saya makin menjadi-jadi. Cemburuan dan curiga berlebihan. Kekhawatiran Hani akan diambil orang jauh lebih besar dibanding cinta yang seharusnya.

Siapa sih yang tidak gerah kalau dicemburui terus menerus? Mana ada orang yang senang dicurigai berlebihan?

Itulah yang terjadi pada saya terhadap Hani. Pada satu kesempatan, saya dan Hani bertengkar hebat. Hani marah besar. Rupanya, kejengkelan demi kejengkelan Hani yang semula kecil-kecil meledak sontak saat itu. Ketidakbahagiaannya. Sikap protektif saya yang berlebihan. Kontrol saya pada setiap kesempatan. Masih banyak lagi yang diungkit saat pertengkaran.

Sebenarnya saya sadar. Namanya harga diri lelaki. Saya balas marah dan menuduhnya mengada-ada. Pertengkaran hebat tidak bisa diselesaikan. Hani memilih putus. Saya tercengang. Tidak menyangka kata itu keluar dari mulutnya.

Saya memilih mundur saat itu. Saya membiarkan dia reda dari kemarahannya. Ternyata saya keliru. Ketika saya menanyakan kembali keputusannya, Hani mengatakan keputusannya final. Dia tidak mau kembali kepada saya. Jangan ditanya, betapa saya frustasi dengan keputusan Hani. Empat tahun pacaran kok bisa-bisanya putus? Dengan tidak baik-baik pula. Pastilah rasanya jengkel luar biasa. Kecewa. Marah. Merasa dikhianati. Tidak percaya pada perempuan.

Saat itu, rasanya dunia sudah kiamat bagi saya. Tidak ada lagi mimpi indah yang menguatkan hati saya. Cinta saya yang besar pada perempuan, ternyata tak membuatnya bertahan di sisi saya. Saya tetap kehilangan dia.

UNDANGAN

Begitu saja, saya jadi 'pengelana'. Menghambur-hamburkan uang yang saya peroleh selama bertahun-tahun. Berusaha gigih untuk mengambil cinta Hani kembali. Sayangnya, Hani tetap bersikukuh tidak mau. Saya semakin frustasi.

"Jujur saja, Mbak Ari.... Saya bukan orang yang religius. Saya dibesarkan di lingkungan yang tidak terlalu peduli dengan agama. Saya benar-benar gila. Tiap malam keluyuran ke tempat-tempat hiburan. Minum-minum. Mentraktir teman-teman sampai puas. Berusaha mencari 'sosok-sosok' cantik untuk menggantikan Hani, tapi saya tidak menemukannya."

Begitulah pengakuan Indra, sesaat setelah bercerita.

Lalu, apa yang terjadi kemudian?

Saya benar-benar hancur. Patah hati. Hancur karier yang sudah saya bangun bertahun-tahun. Banyak order dan permintaan pelanggan yang tidak bisa saya penuhi. Akhirnya mereka pindah ke makelar lainnya. Saya pun makin ditinggalkan. Tabungan makin menipis. Uang makin sedikit. Sementara saya masih kecewa berat.

Teman-teman sempat mengenalkan saya pada beberapa orang perempuan. Mereka kelihatannya cukup cantik dan baik-baik. Nyatanya..... oh Tuhan saya masih terpikat pada sosok Hani. Bagi saya tidak ada perempuan istimewa, seperti dia.

Baru tiga bulan saya putus dari Hani. Ternyata dia telah menyedot dan menguras energi batin saya. Menghabiskan banyak karier dan tabungan saya. Di saat yang tidak tepat itulah, undangan Hani datang.

DIA MENIKAH

Luka hati saya semakin berdarah. Kegilaan saya makin parah. Entah kenapa, diam-diam ada yang menelusup di hati saya. Kalau dalam waktu tiga bulan, dia sudah menyerahkan undangan pada saya.... Lantas, di manakah cintanya pada saya selama empat tahun ini? Apakah ia benar-benar mencintai saya? Bukankah urusan pernikahan tidak secepat membeli baju?

Oh, Tuhan...!

Kalau Hani benar-benar mencintai saya, tentunya tak semudah itu dia mengambil keputusan menikah. Sementara dulu, berulang kali saya mengajaknya menikah, tetapi selalu ditolaknya.

Tiba-tiba saja saya tertunduk lemas di salah satu kursi di rumah saya. Saya merasa dikhianati. Saya yakin sesungguhnya Hani tidak benar-benar cinta kepada saya. Saya merasa penolakan-penolakannya atas ajakan pernikahan saya, hanyalah alasan untuk berpisah dari saya. Mungkin. Itulah yang terjadi. Toh, saat menikah dengan lelaki lain itu, Hani juga belum menyelesaikan S-2nya.

Lalu bagaimana dengan saya? Apa lagi yang harus saya tunggu dari Hani?

TIDAK ADA.

Tidak sedikit pun tersisa. Dia akan berbahagia dengan lelaki lain.

Haruskan saya meratapi diri dengan menghabiskan masa mudah saya? Sementara dia tidak sedikit pun peduli?

IBUNDA

Saya jarang pulang ke rumah orangtua. Lebih-lebih setelah saya mandiri. Hanya kalau ada keperluan besar, misalnya ada kondangan atau hajatan lain, baru saya pulang. Meskipun setiap hari saya menelepon ibunda saya. Entah kenapa, saat itu saya ingin pulang. Bertemu Ibunda.

Seperti biasanya, ibunda saya tak banyak bertanya ini itu ketika saya datang. Saya pun bebas tidur nyenyak sampai sore. Selepas mandi, baru saya makan dan ngobrol dengan Ibunda.

"Ibu wis dengar apa yang terjadi. Ya wis tho Le, bukan jodohmu. Cari saja yang lain. Trah ningrat juga berat buat kamu."

Begitulah kata Ibunda. Entah kenapa, itu membuat saya lega. Mungkin Ibunda mendengar dari adik saya yang tinggal di rumah saya karena kuliah. Saya masih tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

"Bekerjalah seperti biasa. Nanti jodoh kamu akan datang sendiri," nasihat Ibunda.

Benar saja. Sejak kepulangan ke rumah orangtua, saya kembali bekerja giat. Tanpa seorang perempuan. Tak terpikir lagi untuk pacaran. Malas. Pacaran empat tahun tahunya dia menikah sama lelaki lain. Yang benar saja! Sudah capek hati empat tahun, tahunya tidak jadi menikah! Oooh.... tidak!

NUANSA HITAM PUTIH

Setiap waktu luang, saya habiskan hang out bersama teman-teman. Kadang-kadang saya lebih suka mengikuti touring sepeda motor dengan klub. Kebiasaan itu masih terus berlangsung. Mungkin akan terus berlangsung kalau saya masih memiliki teman-teman.

Sayangnya, lama kelamaan teman-teman saya yang asyik buat hang out satu persatu melepaskan status lajangnya. Mulailah satu persatu menikah mendahului saya. Tahu-tahu, saya merasa panik.

Memang saya tidak kehilangan mereka. Setiap kali saya bisa main ke rumah mereka. Namun karena keberadaannya sudah 'beristri', saya tidak bisa lagi asal datang. Ajakan saya untuk pergi seperti saat masih lajang, juga sering ditolak. Dengan alasan ada acara dengan istri atau keluarga.

Saya mulai merasa kesepian. Malas keluar dari rumah, tapi bosan juga. Benar-benar menjengkelkan. Saya juga masih malas untuk pacaran lagi. Terus berharap menemukan sosok yang seideal Hani. Meskipun beberapa kali dikenalkan perempuan, saya juga tidak cocok.

"Bayangkan, Mbak Ari. Empat tahun pacaran, sampai umur 29 tahun tidak jadi nikah. Menghabiskan energi gara-gara susah ditinggal pacar, tahu-tahu saja umur sudah 35 tahun. Kalau saya tidak pacaran dan menikah dari awal.... hmm, bisa jadi anak saya sudah besar...."

Adik saya menikah duluan. Saya semakin merana. Apalagi kalau di tengah keluarga besar. Terutama saat lebaran atau acara hajatan. Saya seperti orang yang bersalah, karena belum menikah. Sepertinya ada yang tidak beres pada diri saya. Setiap orang memandang, seolah-olah saya telah melakukan kesalahan besar.

"Apa kamu tidak bisa cari perempuan, In? Apa Paklik saja yang carikan kamu istri? Ingat lho, kalau tidak kawin bukan umatnya Rasulullah!"

Masih banyak bla... bla... bla... yang lainnya dari kerabat di keluarga besar saya. Itu kenapa kalau tidak dipaksa ibunda, pasti saya malas datang. Benar-benar sengsara!

Lalu saya terpikir, apa saya akan begini terus? Lontang-lantung tidak jelas. Dengan pekerjaan yang tidak ada jaminan. Bagaimana akan mengurusi anak istri? Apalagi biaya hidup di Jakarta makin mahal saja.

Tidak tahu kenapa. Meskipun rasa bosan melajang melanda, saya masih pikir-pikir untuk menikah. Belum lagi menghadapi urusan pendidikan anak-anak nanti. Aduuuh, tahu-tahu saja ada sejuta alasan di benak saya untuk tidak siap menikah.

Saya bertanya-tanya pada beberapa orang yang saya temui dan belum menikah. Rata-rata lelaki lajang yang sudah bekerja dan belum menikah, selalu bilang belum siap. Takut tidak bisa mengurusi istrinya. Kasarnya saja, hidup sendiri dengan penghasilan segitu saja masih kurang. Bagaimana mau menghidupi anak orang?

Begitulah lebih kurang pendapat diantara mereka. Saya paham dan menerima. Alasan saya belum menikah, salah satunya karena itu. Selain masih berharap ada perempuan yang sesempurnya Hani.

Waktu terus berlalu. Saya semakin menua. Bukannya cepat-cepat memutuskan menikah, malah sibuk memikirkan hal tidak jelas. Makin matang usia malah tambah perhitungan. Semakin lama pula saya untuk menikah. Sementara, ibunda saya mulai bosan mengingatkan saya untuk menikah.

Sebenarnya, saya juga sangat ingin menikah dan punya keluarga. Selalu saja menguat pertimbangan akal dan logika saya. Tentang tanggung jawab dan konsekuensi menikah. Semuanya telah meruntuhkan niat dan tekad saya untuk menikah. Lebih-lebih karena saya tidak punya pacar. Tidak ada yang mendesak-desak untuk dinikahi.

SHINSE BIJAK

Pada suatu hari, Ayah saya sakit agak keras. Beliau fanatik dengan pengobatan China. Tidak pernah maun dibawa ke dokter. Dokter secanggih apapun, pastilah tidak mempan untuk sakit Ayah. Kalau dibawa ke shinse, baru dikasih ramuan yang harganya murah-meriah saja, tidak lama pasti langsung sembuh. Aneh, tapi itulah ayah saya.

Saat mengantarkan ayah saya, saya bertemu seorang shinse. Shinse ini akan bertugas menggantikan shinse sebelumnya. Sambil menunggu waktu pergantian, saya sempat berbicara dengannya. Sedikit ngobrol-ngobrol tentang profesi dan kesehariannya.

Merasa cocok, kami pun berbagi cerita. Saya menyinggung-nyinggung tentang keinginan saya menikah dan problemnya. Yang tidak saya duga, shinse itu malah tertawa dan menepuk-nepuk bahu saya.

"Menikah saja. Kamu tahu, Indra, orang yang punya penghasilan sejuta sebulan. Cukup untuk satu orang, tetap cukup untuk dua orang maupun untuk satu keluarga. Kalau tidak percaya, buktikan saja. Menikahlah! Itu bisa membuat kamu lebih tentram!"

Saya menatap shinse dengan tidak percaya. Logika mana yang bisa dipakai sejuta untuk satu orang, tetap bisa cukup untuk dua orang ataupun keluarga? Yang benar saja! Saya jelas sangat ragu-ragu dengan ucapan shinse tersebut. Untuk membantahnya, saya masih punya etika dan menghormati orangtua.

Selepas itu saya tidak pernah membahas pernikahan. Saya tetap berusaha mencari jodoh. Benar-benar mencari. Nyaris putus asa. Tidak ada harapan untuk menemukannya.

Kesal. Jengkel. Marah. Kecewa. Sakit hati.

Saat saya serius mencari jodoh, sepertinya nasib mengolok-olok saya. Beberapa kali dikenalkan dengan perempuan. Kelihatan di awalnya baik-baik dan mau serius dengan saya, ujung-ujungnya ada yang tidak beres. Entah sebenarnya punya pacar, tidak serius dan sebagainya.

Saya jadi malas. Tidak terlalu peduli lagi soal jodoh. Lebih baik saya konsentrasi pada pekerjaan. Bekerja keras, menabung sebanyak-banyaknya. paling tidak, untuk persiapan kalau saya menikah dan pekerjaan tak lagi ramai.

PELANGGAN SETIA

Saya tidak tahu sudah beberapa kali pelanggan ini, sebut saja Pak Abdullah, melakukan transaksi pembelian mobil di tempat saya. Yang jelas, dia selalu puas. Beliau akan merekomendasikan saya jika ada keluarga besar atau kenalannya membeli mobil second.

Begitu pula kali ini. Saya diminta datang ke suatu alamat membawa mobil yang akan dibeli oleh keluarga Pak Abdullah. Tanpa banyak tanya, saya menyanggupinya. Pas pembicaraan harga mobil dan lain-lain, saya duduk dengan Pak Abdullah di ruang tamu. Sedangkan calon pembeli sedang mencoba mobil. Saya dan Pak Abdullah begitu serius membahas soal harga. Tiba-tiba saja seorang wanita masuk lewat ruang tamu setelah mengucapkan salam.

Saya benar-benar tak peduli, selain menjawab salam. Setengah berbisik Pak Abdullah berkata pada saya.

"In, anaknya baik tuh... jadikan istri saja!" serunya.

Spontan saya menoleh. Sosok perempuan itu hanya bisa saya lihat dari belakang. Saya menatap Pak Abdullah dengan sedikit protes. Memberi tahu kok terlambat. Kemarin-kemarin kek, biar saya sedikit persiapan bertemu wanita. Lihat saja, saat itu saya hanya dengan jeans lusuh dan t-shirt, pakai sandal jepit pula!

"Nanti saya kenalkan!" serunya.

Begitulah. Perkenalan singkat. Namanya Melona. Jujur saja, saya tidak ada perasaan sama sekali. Tidak ada ketertarikan. Jauh dari standar perempuan yang akan saya jadikan istri. Saya hanya senyum-senyum menolak. Tak peduli ketika Pak Abdullah masih sibuk mempromosikan 'keponakan'nya.

Usai transaksi, saya anggap usailah sudah urusan saya dengan Pak Abdullah. Saya benar-benar lupa dengan perempuan pemilik lesung pipit di dua pipinya. Wajahnya putih bersih, tapi tidak cantik. Saya ini... gubrak, gampang lupa sama perempuan yang tidak cantik. Tidak ada pula kontak dengan Melona.

JALAN JODOH

Suatu hari saya harus mengantarkan mobil pesanan ke luar kota, di propinsi yang berbeda. Saya menyanggupinya. Sekaligus mau pulang ke rumah orangtua. Eeh... namanya jual beli ini karena Pak Abdullah, dia pun tahu jadwal saya mengantarkan mobil. Pak Abdullah mengatakan Melona juga mau pulang ke rumah orangtua bersama adiknya. Dia minta saya untuk sekalian membawa Melona.

Saya bersedia. Pak Abdullah tidak keberatan kalau saya ke rumah orangtua dulu untuk istirahat. Baru mengantarkan Melona dan mobil ke pembeli.

Ya begitulah. Saya dan Melona tak banyak bicara selama di perjalanan. Adik lelakinya, duduk manis di samping saya. Sementara Melona sepertinya sudah lama tidur di jok belakang.

Esok paginya, jam tujuh pagi sampai di rumah. Saya memberitahukan kepada ibunda saya tentang siapa dua anak itu. Lalu saya tidur nyenyak karena capek dua belas jam menyetir. Saya tidak tahu apa yang terjadi antara Ibunda dengan Melona dan adiknya. Saya terbangun sekitar jam sebelas.

Usai mandi dan belum berganti pakaian yang lengkap, Ibunda menghampiri saya dan berkata, "Dia jodoh kamu, In. Sudah pastikan saja, kapan kamu mau melamarnya?"

Sontak saya bingung kan. "Maksud Ibu siapa?"

"Itu, perempuan yang kamu bawa!"

Saya ingin protes. Ibunda menepuk-nepuk bahu saya dan pergi. Saya hanya diam. Protes saya sepertinya masih berlanjut. Ketika mengantar Melona dan adiknya itu, tiba-tiba saja orangtua Melona mengatakan singkat. "Mas Indra, mbok ya anak saya Melona dijadikan istri, Nak!" seru bapaknya.

"Betul, Nak. Itu juga kalau Nak Indra belum punya calon. Melona belum ada ketemu jodohnya," timpal ibunya.

Aduuuh, mau mati rasanya!

Begitulah. Tanpa proses berbelit karena semua orangtua mendukung, saya pikir mungkin dialah jodoh saya. Tanpa banyak kesulitan, akhirnya saya dan dia menikah. Meskipun dalam hati saya bingung. Saya tidak cinta dia. Tidak kenal dia dengan baik. Terlebih saya masih cemas bagaimana membiayai rumah tangga saya.

Seperti keajaiban juga. Yang dikatakan oleh shinse, ternyata benar. Penghasilan saya boleh jadi tak bertambah drastis dari saat saya lajang. Dengan adanya istri, kok ya tetap sama rasanya. Tidak berkurang dan tidak kekurangan. Yang jelas, hidup saya lebih teratur. Lebih terkontrol. Hati lebih tenang.

Kalau saya mau pergi, otomatis mesti memberitahu dia dulu. Soalnya istri saya itu, kalau saya lupa kasih tahu dan tidak pulang-pulang, dia tidak mau SMS atau telepon tanya di mana saya. Dia akan terus menunggu di ruang tamu, meski dengan terkantuk-kantuk nyaris tertidur.

Gila, istri saya baik sekali dan sangat setia. Jadinya, saya tidak enak sendiri kalau pergi tanpa pamit. Selain itu, dia membuat saya kembali kepada Allah. Ya, biarpun shalat masih bolong-bolong, paling tidak saya sudah mulai shalat lagi. Mau ikut mengaji. Soal makan, tidak perlu bingung sudah ada yang menyiapkan.

Apalagi ya kelebihannya? Banyak. Sekarang hati saya juga lebih tenang. Tidak ada pikiran macam-macam terhadap perempuan. Hidup juga jadi lebih berkah. Ketakutan saya akan pernikahan dan tidak bisa menghidupi anak istri, tidak terbukti.

Ketika istri saya hamil, saya sudah kocar-kacir dan khawatir. Namanya wiraswasta yang tidak menentu penghasilannya. Saya khawatir karena dokter mengultimatum istri saya harus melahirkan dengan caesar. Panggulnya terlalu sempit meskipun posturnya cukup standar. Saya sudah berpikir dari mana mendapatkan duit banyak untuk caesar.

Ternyata benar, Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Beberapa hari sebelum kelahiran anak saya, kawan dari Amerika datang. Dia senang sekali bertemu saya. Tahu istri saya hamil, begitu saja dia meninggalkan uang seribu dolar. Katanya untuk membantu kelahiran istri. Padahal saya tidak cerita apa-apa. Saya sudah menolaknya, tapi dia tidak mau. Katanya, dia mestinya datang waktu saya menikah, tapi tak bisa. Sekarang kalau saya menolaknya, berarti saya bukan kawannya lagi.

Begitulah. Ternyata proses caesar istrinya pun mudah. Biayanya tidak sebesar yang saya pikirkan. Sungguh, sejak itu saya meresa menyesal kenapa dulu menunda-nunda menikah dan tidak percaya bahwa rezeki itu selalu saja ada jalannya.

Yang paling saya sesali adalah, kenapa saya dulu sampai pacaran segala. Mestinya begitu Hani tidak mau saya ajak menikah, ya saya harus meninggalkannya. Bukannya menggantung diri, toh akhirnya tetap tidak menikah. Terlalu banyak dosa pula. Soalnya setiap ketemu, pikirannya nafsu melulu. Mudah-mudahan Allah mau mengampuni dosa-dosa saya waktu saya tidak mengerti. []

JODOH CINTA CORNER

1. Pacaran = Nafsu

Itulah yang terjadi dalam pacaran. Nafsu ingin menguasai pasangan kita. Nafsu ketidak percayaan. Sebab tidak ada ikatan sah yang diakui masayarakat luas dan agama. Ditambah dengan nafsu berahi yang sering tidak terkontrol.

Tidak heran kalau orang pacaran banyak yang kebablasan. Sudah pasti seperti sabda Rasulullah Saw., bahwa kalau lelaki dan perempuan berdua-duaan bukan dengan muhrimnya, maka yang ketiganya adalah setan.

Setan akan terus menggoda dan menjerumuskan orang pacaran supaya berbuat zina. Perbuatan terkutuk yang membuat banyak anak terlahir karena angkara murka. Mereka akan lebih patuh pada perintah setan daripada mendengar kalimat Allah Swt.

2. Deadline Patah Hati

Kalau pacarannya sudah lama dan rasanya kita cinta mati sama sang pacar, rasanya tidak bakalan usai. Yang lebih buruk, patah hati sering merusak karier dan kepribadian kita.

Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan memberikan deadline patah hati. Setelah selesai, berjalanlah seperti biasa. Ingat, banyak perempuan lain yang lebih berharga untuk diperjuangkan. Tidak ada gunanya menangisi perempuan yang meninggalkan kita. Tidak mudah, tapi dengan kesibukan bisa lebih cepat.

Ketika patah hati, jangan menyendiri. Cari teman-teman dan lingkungan yang baik. Tujuannya agar tidak terjerumus pada kesesatan. Saat saya patah hati, meskipun hura-hura di tempat hiburan, saya sadar apa yang boleh saya lakukan. Teman-teman saya 'baik-baik'. Dugem sampai pingsan, ayo saja, tapi alcohol, drugs, free sex, jauh-jauh lah! Kita sendiri yang rugi.

3. Tidak Apriori

Biasanya, lelaki dan perempuan---kalau sudah punya 'sosok idola' yang ingin dijadikan pasangan hidupnya, manteng saja di sosok yang seperti itu. Padahal, yang kita anggap baik belum tentu baik buat kita. Tidak perlu apriori kalau dikenalkan atau dijodohkan dengan orang yang tidak sesuai dengan kriteria kita. Istri yang wajahnya biasa saja; tapi baik, cinta, setia, dan shalehah jauh lebih berharga dan membuat hati tenang, daripada istri cantik yang membuat hati jantungan terus karena takut diambil orang.

4. Niat

Kalau mau menikah, meskipun belum punya calon, luruskan dan kokohkan niat. Kalau niat saja tidak ada, bagaimana mau menikah? Istilahnya, mau pergi ke sebuah institusi 'rumah tangga', tapi keinginan ke sana tidak ada, bagaimana bisa terlaksanan? Niat harus sungguh-sungguh. Harus ikhlas kalau ingin menikah. Pasti, Allah akan memberikan jalan kemudahan.

5. Tidak Perlu Takut Kekurangan

Setiap orang dijamin rezekinya oleh Allah. Pernikahan tak akan membuat orang miskin atau kekurangan. Seberapapun rezeki yang kita miliki, pasti cukup. Bahkan pernikahan membuat rezeki makin berkah.

Apa saja yang kita nafkahkan pada istri dan keluarga akan dinilai sedekah. Asal sumbernya juga jelas dan halal. Tidak perlu ragu menikah kalau penghasilan tak menentu. Yang penting harus ada niat sungguh-sungguh untuk menafkahi keluarga. Jalan rezeki akan terbukan dengan sendirinya.[]


Kisah ini adalah salah satu kisah inspiratif dari sekian banyak kisah yang diambil dari buku Jodoh Cinta Update yang ditulis oleh Ari Wulandari

Label:

Minggu, Juli 11, 2010

Konsep Makan di Pinggir Jalan

Saya yakin kita semua pernah melihat warung makan yang berjejer di pinggir jalan. Menu masakannya biasanya adalah nasi goreng, mie goreng, pecel lele, mie baso, mie ayam, goreng ayam, sate dan lainnya. Dan rata-rata buka pada malam hari. Entahlah ada keunikan sendiri jika kita makan disana. Selain harganya murah mungkin kita dapat suasana bebas dalam arti tidak terikat aturan dinner yang ribet seperti di restoran hotel.

Pagi tadi setelah puas jogging di grand depok city, saya seperti biasa berjalan menyusuri jalan terusan citayam. Saya lewati sebuah ruko yang masih banyak yang tutup, mungkin karena hari libur dan masih pagi banget. Tapi saya melihat satu ruko yang sudah buka di pojok yang cukup menarik perhatian saya. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah namanya. Yups, namanya adalah RBG yang ternyata singkatan dari Rebus Bakar Goreng. Heuheuh nama yang unik. Tulisan RBG tersebut dipampang di atas ruko. Lalu setelah membaca itu tulisan, saya sempat sedikit melirik ke ruangan nya. Hanya selintas yang saya lihat. Saya hanya ingat ada sejumlah meja yang ditata di atas paving block. Lalu saya lanjutkan perjalanan.

Lima detik berlalu tiba-tiba saja ada perasaan yang aneh. Hemm,, benarkah yang saya lihat tadi adalah meja-meja yang disusun di atas paving block?? Jika memang benar akan lebih unik kalo paving block tersebut disusun membentuk sebuah replika trotoar. Saya tergelitik ingin melihat kembali ruko itu dan memastikan bahwa ruko tersebut mengusung konsep makan di atas trotoar.

Saya mundur lalu memperhatikan ruko tersebut lebih teliti. Dan benarlah dugaan saya, sisi-sisi tumpukan paving block itu di cat hitam dan putih. Sebuah konsep makan di atas trotoar yang dibawa ke dalam ruko. Lalu saya lirik bagian lain ruko itu, ada sejumlah traffic sign yang melengkapi konsep tersebut.

Heuheuhu, konsepnya keren juga neh :D

Label: ,

Sabtu, Juli 10, 2010

Days Off at Palabuhan Ratu

Setelah GE selesai, kami mendapatkan jatah days off selama tiga hari. Alhamdulillah. Rencana awal akan saya gunakan untuk pulang ke Ciamis. Tapi ternyata Andri Permana, Rachmad Agus Debdiyanto, Handoyo Liu dan Rosany Sihombing generasi ke 19 mengajak menghabiskan sebagian days off ke Ujung Genteng. Acaranya begitu mendadak, tidak banyak rencana yang kami siapkan.

Hari kamis kemarin sekira jam 11 kami mulai meninggalkan jakarta setelah mengantarkan Rifka-nya Mamad ke bandara. Kami hanya berbekal directions dari google map. Weeuugh, canggih bener tuh directions dari google map.

Kami berhenti di rumah makan PI-Nadar. Lokasinya antara Bogor dan Sukabumi. Ini adalah rumah makan terapung. Kita bisa makan sambil berlayar :D. Suasananya alami, asri, ndeso :D. Danaunya luas banget. Makanannya juga enak dan enggak terlalu mahal. Trus ada bonus cuci mulutnya pula :D. Dan kebetulan banget disitu lagi ada shooting acara kuliner jelang siang. Heuheuhue, kawan saya yaitu momon dan sany dapet kesempatan masuk tv tuh, katanya ditanyangin hari rabu besok di jelang siang trans7 jam 12.30.. Kami sempat foto bareng dan berkenalan dengan host nya. Namanya Sukma Kartini :D. Cuantik banget polll..

Tiba di Palabuhan Ratu tepat maghrib. Rencana ke Ujung Genteng pun terpaksa kami urungkan, terlalu jauh (masih harus menempuh 77 km lagi) sedang waktu kami terbatas karena besok malam, mamad harus terbang ke Surabaya.

Pelabuhan Ratu asik banget, pantainya bersih, suasanya adem. Kepenatan kami dengan urusan kantor serasa hilang begitu saja.

Penginapannya pun murah, walaupun aga-aga,, heuheu tapi cukup lah buat kami istirahat. Saya temukan sebuah kotak misterius di bawah bantal kursi ruang tamu, wakakaka tuh orang sembarangan aja naro barang :D. Lokasinya dekat ke pantai pula :D. Lalu malam itu kami keluar untuk cari makan. Tempatnya mantaf, lesehan, tepat di pinggir pantai. Wah kalo bawa pasangan mah,,, ini bener-bener romantis deh. Menunya juga gag jauh dari hidangan laut.

Paginya kami bangun telat :D. Jam 7an baru checkout. Kami menyapa pantai dengan bernarsis ria :D. Jam 9 tepat, kami lanjutkan perjalanan ke jakarta.

Kepotong solat jumat dan makan siang di sebuah restoran ayam goreng sunda di sekitar sukabumi kami tiba di jakarta jam 15.30 dan disambut dengan guyuran hujan :D. Saya dan sany turun di Cawang untuk meneruskan perjalanan menggunakan KRL ke Depok. Overall, ROCK \m/

Label: ,

My Puzzle

Akhir-akhir ini saya teringat cerita dari salah seorang seniorku (kang sandy) saat saya masih berkantor di sidoluhur 14 bandung. Saat kami sedang makan siang. Nama kantinnya saya masih ingat, Warung Nasi Tasik dengan sajian khasnya adalah karedok dan pecel :D.

Awalnya beliau mengabari bahwa sedang merencanakan membangun rumah. Saya ikut senang dan bersimpati. Beliau bertanya kepada saya, 'apa impianmu de'. Ditanya begitu saya cuman melongo. Kang sandy melanjutkan obrolannya, bahwa kita seharusnya sudah memiliki gambaran tentang masa depan kita. Anggaplah gambaran itu sebuah puzzle. Ya, sebuah puzzle. Dalam bermain puzzle, kita sudah tahu gambaran akhir permainan ini seperti apa. Lalu gambaran itu dipecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Tiba-tiba gambaran itu menghilang. Tugas kita adalah merangkai kepingan tersebut sehingga membentuk gambar utuhnya.

Sama seperti kepingan puzzle tadi, kita perlu menciptakan impian-impian di masa depan. Dengan impian tersebut kita bisa terarah dalam menentukan berbagai hal agar impian tersebut bisa tercapai dengan baik. Jika impian saja tidak kita miliki, maka tujuan hidup kita ini juga terasa hampa dan tak bermakna.

Saya lalu mulai berimajinasi, impian seperti apakah yang saya ingin wujudkan di masa depan. Sedikit demi sedikit saya tuliskan dan akhirnya selesai juga. Awalnya terasa lucu dengan apa yang saya tuliskan. Tidak ada satupun dalam impian itu yang nyata pada saat ini. Saya cuman cengar-cengir, tapi saya yakin hal ini akan terwujud. Tentu saja diperlukan usaha dan doa yang keras untuk mewujudkan ini semua. Impian itu saya tuliskan sebagai berikut:

Ibadah kepada Allah SWT adalah prioritas tertinggiku dan keluargaku. Saya adalah seorang profesional business analyst, expert programmer, system architect.

Saya memiliki sebuah perusahaan konsultan IT dengan reputasi terbaik. Sebuah world class company. Saya sering diundang sebagai pembicara dalam seminar IT dan motivasi. Saya juga sering memberikan tausiah-tausiah di radio-radio.

Saya memimpin sebuah asosiasi hobi/IT. Saya sering diundang sebagai dosen ahli di bidang system engineering di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Saya memiliki isteri dan anak-anak yang saling berbagi kebahagiaan dan semangat. Keluarga kami adalah teladan bagi masyarakat. Kami terhubung dengan keluarga besar yang sangat solid. Penuh semangat dan keceriaan.

Sesibuk apapun, kami tetap beribadah kepada Allah. Kami gemar bersilaturahmi dan bersedekah. Zakat tidak pernah kami lewatkan.

Kami tinggal di sebuah lingkungan yang sehat yang selalu membuat kami semangat dan berinovasi. Saya memiliki banyak sekali waktu luang bersama keluarga dan anak-anak. Saya sangat mencintai isteri dan anak-anak saya. Hak dan kewajiban mereka selalu terpenuhi bahkan lebih dari itu, begitupun sebaliknya.

Saya memiliki karakter optimis, penuh percaya diri, bersemangat, taktis, sabar, rendah hati, senang berkelakar. Saya memiliki wawasan dan pergaulan yang sangat luas. Saya sangat gemar berolah-raga untuk mencapai kesempurnaan fisik.

Ya Allah, itulah sekelumit cita-cita saya. Mudahkanlah hamba dalam meraihnya, tanamkan niat yang kokoh, kuatkan hamba dalam menjalaninya. Anugerahkan semangat jihad di dalam dada ini. Engkau Maha Pemberi, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang maka dari itu kabulkanlah doa hamba ini. Tiada tempat untuk memohon pertolongan melainkan Engkau. Aamin Ya Allah Ya Robbal Alamin.

Label: , ,

Senin, Juli 05, 2010

20100705 09:44

Spirit Monday..

Semua pekerjaaan punya kekuatan, punya peran untuk membangun sendi-sendi bangsa.

Tugas kita menjalankan tugas-masing masing secara profesional, bersinergi, untuk kemajuan bangsa.

Apapun profesi kita, berapapun kita digaji, jika kita sudah menerima itu sebagai profesi, maka jalanilah dengan sepenuh Hati.

Selamat pagi, selamat beraktivitas, selamat berjuang untuk menjadi diri-diri yang professional ^_^

Label:

Jumat, Juli 02, 2010

Amix - Cofounder nya Plurk.com


Source is here

Label:

Kamis, Juli 01, 2010

Cufon - Custom Font

Salah satu situs berita yang menggunakan cufon sebagai custom font untuk heading beritanya adalah Surya (surya.co.id). Berikut ini adalah hasil print-screen nya:


Menurut blog sendaljepit, dengan menggunakan cufon, kita bisa melakukan personalisasi tampilan font, menambahkan font-font khusus non-generic yang biasanya tidak terdapat di semua komputer.

Label: