Fridayana Baabullah

Jumat, April 29, 2011

Dongeng Sebuah Negara Abstract

Saya ingin bercerita tentang sebuah negara abstract, bohong-bohongan, imajiner. Karena abstract, maka negara ini memang tidak ada. Tak akan kita temukan dimana pun. Jangan bersikap bodoh dengan mencoba-coba mencarinya. Jangan hubungi saya, karena saya juga tak tahu dimana negara itu.

Negara tersebut memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, paru-paru dunia. Dikepalai oleh seorang lelaki muslim, namun sama sekali tak terasa kontribusinya, dukungannya, perlindungannya terhadap umat. Bahkan cenderung mendeskreditkan umat, sangat menyedihkan, benar-benar menyedihkan dan cenderung menyebalkan. Padahal dia adalah seorang kepala negara yang memiliki kekuasaan penuh. Atau memang kekuasaan nya hanya tertulis di kertas saja?

Jika kita menelisik aparat keamanannya, kita mungkin akan sedikit tersenyum. Warganya jadi bulan-bulanan petugas lalu-lintas. Dengan sengaja menjebak lalu berdamai dengan sedikit memaksa. Tidak menjunjung tinggi pepatah lebih baik mencegah daripada menilang.

Pemerintah seakan tak berdaya dengan kenaikan harga yang makin mencekik rakyatnya. Semakin sulit rakyatnya mengenyam pendidikan yang notabene tertulis di Undang-Undang Dasarnya. Pemerintahnya seakan tak mengerti bahwa kemajuan suatu bangsa salah-satunya bisa tercapai jika rakyatnya mendapatkan pendidikan dan wawasan yang luas. Namun, kini rakyatnya seakan takut menyekolahkan anak-anaknya. Bantuan pendidikan pemerintah habis dimakan tikus-tikus menjijikan.

Media massa dikepung oleh ahli fitnah. Berbagai isu membingungkan pun dengan mudah sekali tersebar. Kasihan rakyat yang tak tahu lagi mana pihak yang benar mana pihak yang salah.

Islam yang menjadi agama mayoritas disana kini kian terpojok dengan berbagai isu. Umat muslim disana kian digentarkan dengan pemahaman-pemahaman salah mengenai agamanya sendiri. Kasihan sekali. Kasihan sekali. Kasihan sekali. Kasihan sekali.

Isu rumah ibadah agama lain yang katanya akan di bom (dan tak pernah kejadian di bom) lebih heboh dan menjadi topik nasional daripada isu sebuah mesjid yang benar-benar dibakar. Bahkan mungkin warga muslim disana tak banyak yang tahu tentang kejadian mesjid dibakar itu karena memang tak di expose. Tak banyak yang peduli.

Rakyat semakin sensitif. Sedikit gesekan bisa menyebabkan pertumpahan darah. Miris sekali. Rakyat mudah diadu domba.

Sopan santun di kalangan masyarakat semakin terkikis. Mereka mulai merasa segan saling menyapa. Batin mereka semakin sakit dengan keadaan sosial yang makin individualis tersebut.

Birokrasi semakin menggila. Apapun harus melalui sogok-menyogok, suap-menyuap.

Rakyat semakin sakit hati ketika wakil rakyatnya akan membangun gedung wakil rakyat super mewah.

Terlepas dari itu semua, suatu malam yang larut di sebuah warung kopi. Dua orang pemuda sedang asik menikmati hidangan bubur kacang ijo sambil berbincang. Salah satunya menyayangkan sikap kepala negaranya yang seakan tak banyak aksi untuk menyelesaikan berbagai masalah negara. Dia dengan pemikiran pendek dan wawasannya yang sempit bertanya kepada temannya:

'Kenapa ya presiden kita begini, padahal dia kan muslim. Apa dia ga sadar bahwa kekuasaan yang diembannya harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah di akhirat kelak? Apa dia rela mengorbankan akhiratanya hanya dengan dunia yang jelas-jelas fana?'

'Ah lo banyak omong kayak ustad aje, solat aja masih bolong-bolong luh.. Udeh biarin aje, nyang penting kita doain aja semoga kita semua diberi hidayah dan petunjuk yang benar buat ngejalanin hidup. Jangan sampe akidah kita pupus. Kalo akidah kita pupus, trus ntar di akhirat kita bisa celaka dong.. kan berabe.. heheh'

'Iye, amin...'

Label: , ,

1 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]



<< Beranda